END OF WATCH (2012) REVIEW

10/21/2012 04:54:00 PM


"I am fate with a badge and a gun. Behind my badge is a heart like yours. I bleed, I think, I love, and yes I can be killed." 
Kisah mengenai polisi - polisi di Amerika mungkin adalah salah satu kisah yang paling sering diangkat ke medium film tetapi jarang memiliki film “adaptasi” yang benar - benar bagus. Hal ini tidak jauh karena formulanya yang begitu - begitu saja; lazy and uninspiring--kata kritikus, seperti pertempuran antar geng, polisi korup, memburu buronan yang susah ditangkap, dan lain sebagainya. Beragam treatment baru pun mulai dilakukan, paling sering sih mengetengahkan sepak terjang dua orang polisi (buddy-cop) ataupun dengan balutan komedi (contohnya 21 Jump Street). Tetapi kalau dibuat bergaya ala mockumentary (dokumenter palsu), sejauh ini baru End of Watch yang sukses menarik perhatian masyarakat film. Apakah film ini berhasil meniupkan angin segar terhadap film bergenre buddy-cop yang sudah mulai usang ini?


A BRILLIANT BUDDY-COP SEMI-MOCKUMENTARY DRAMA.

End of Watch dibuka dengan narasi singkat yang mendeskripsikan polisi dari sudut pandang Brian Taylor (Jake Gyllenhaal), seorang polisi LAPD yang senantiasa berpatroli bersama partner sekaligus sahabat karibnya, Mike Zavala (Michael Pena). Film ini kemudian mengajak kita untuk menelusuri kehidupan Brian dan Mike layaknya sebuah dokumenter-biografi; mulai dari awal mula karir mereka hingga mencapai kesuksesan baik dalam karir dan kehidupan rumah tangga mereka.  

End of Watch bisa dibilang merupakan film yang unik dan jarang ditemui di jaman sekarang ini yang penuh dengan sineas dan petinggi studio film perfeksionis yang gemar me-remake, me-reboot, dan mengadaptasi film asing hanya karena visual effects-nya sudah jadul ataupun karena lahan ide mereka sudah tandus. Keunikan ini dicetuskan oleh konsep semi-mockumentary yang diusung sang sutradara sekaligus penulis naskah film ini, David Ayer, di mana konsep tersebut begitu berhasil menyulap sebuah kisah yang sebenarnya tidak orisinil ini menjadi sebuah pengalaman menonton yang asyik.

Yup, trailernya dapat dikatakan sedikit misleading karena pada kenyataannya, End of Watch bukan sebuah film yang murni direkam dengan kamera si tokoh utama ala Paranormal Activity dan Chronicle, tetapi film konvensional yang menggunakan teknik mockumentary guna mempertajam tingkat kerealistisannya dalam frekuensi yang berimbang dengan penggunaan kamera si sineas.


AUTHENTIC, BRUTAL, AND REALISTIC.

Selain gaya film yang tidak biasa, penggambaran Ayer terhadap dunia polisi juga dapat dikatakan sangat autentik. Di film ini, polisi tidak digambarkan sebagai gerombolan superhero seperti yang banyak digambarkan oleh film - film polisi sejenis, melainkan sebagai sekumpulan manusia biasa yang memiliki rasa kepedulian tinggi terhadap sesama dan menyalurkan kepedulian tersebut dengan menjaga keamanan  negara. Mereka juga memiliki dark side, emosi, rasa jenuh terhadap pekerjaannya, dan juga problem kehidupan sehari - hari seperti halnya manusia biasa. 

Hal yang paling kentara adalah cara Ayer mengarahkan aksi Bryan-Mike dalam melakukan tugasnya ataupun ‘berinteraksi’ dengan musuh agar terlihat seperti layaknya polisi sungguhan di dunia nyata yang sedang beraksi. Jadi ya... dapat dikatakan film End of Watch akan sangat mengecewakan bagi para penonton yang mengharapkan kalau film ini akan memompa adrenalin dengan adegan - adegan aksi yang fancy dan spektakuler.


BROKEBACK-ANGELES.

Akan tetapi, di luar segala hal autentik mengenai dunia polisi yang sudah disebutkan di atas, film ini sebenarnya lebih fokus pada perkembangan kedua karakter utamanya yang sukses dihadirkan dengan sangat solid dan believable tanpa embel - embel dramatisasi di sana - sini. Jake Gyllenhaal dan Michael Pena telah menunjukkan performa terbaik mereka dengan menghadirkan chemistry yang sangat memikat hingga meyakinkan para penonton  bahwa mereka berdua adalah benar - benar sahabat karib di dunia nyata.

Untuk para pemanis, David Ayer mengutus Anna Kendrick dan Natalie Martinez sebagai love interest Brian dan Mike. Bisa ditebak, karakter yang mereka perankan memang hanyalah sekedar pemanis. Tetapi berkat performa mereka yang bagus, Anna dan Natalie paling tidak berhasil untuk tampil benar - benar manis dalam arti sesungguhnya dan membuat para penonton menyunggingkan senyum lebar ketika karakter mereka muncul menabur gula di layar bioskop.  





DOCUMENTER-ISH PLOT

Sayang, di luar segala kelebihan tersebut, Ayer telah melupakan salah satu aspek yang paling penting, yakni sebuah aliran cerita ataupun konflik yang benar - benar ‘eksis’, berkembang, dan berkaitan erat dari awal sampai klimaksnya. 

Kelalaian ini pun secara tidak langsung berdampak pada kualitas pace-nya karena para penonton tidak pernah bisa terbawa pada aliran ceritanya yang terasa random itu. Sehingga menyaksikan keseluruhan film ini terasa seperti menyaksikan potongan - potongan dokumentasi mengenai sepak terjang Bryan dan Mike dalam bertugas serta kehidupan pribadi mereka di luar pekerjaan dibanding sebuah film yang bernarasi. 

Ya bisa jadi ini adalah keinginan Ayer, tetapi pada kenyataannya hal tersebut justru cenderung berdampak negatif karena perkembangan karakter dengan narasinya menjadi terasa berat sebelah dan tidak seimbang. 


Overall, End of Watch adalah salah satu film buddy-cop terbaik dalam kurun beberapa tahun terakhir ini. Konsepnya yang unik memang masih memiliki beberapa kekurangan dan teknik shaky cam-nya sanggup membuat kepala anda pusing; tetapi dengan keautentikannya dalam menggambarkan dunia polisi, performa akting dari kedua karakter utamanya yang memukau, dan directing yang solid, tidak ada alasan bagi para cinephiles untuk melewatkan film ini. 

You Might Also Like

0 comments

Just do it.